Rabu, 11 April 2012

Sinopsis Fiksi

BERKELANA DALAM RIMBA
Mochtar Lubis
Perjalanan ke hutan rimba Paman Rokhtam dengan rombongan kecilnya yang beranggotakan remaja yaitu Rais dan Poni yang berumur 17 tahun, Ayang, Aisa, Adnan, dan Pentil yang nama aslinya Abdullah telah memasuki rimba Gunung Hitam di Pegunungan Bukit Barisan, di daerah tengah Pulau Sumatra. Diberi nama demikian oleh orang di kampung-kampung dekatnya, karena batu-batu digunung dan didalam berbagai sungai yang mengalir di dalam rimba Gunung Hitam ini umumnya hitam warnanya dan seluruh daerah ditutupi oleh hutan belantara yang lebat.
Berangkat dengan keyakinan bahwa tidak ada hal yang aneh dalam perjalanan nanti, karena telah banyak cerita beredar di masyarakat bahwa didalam hutan tersebut terjadi hal-hal yang aneh, contohnya ada seorang yang nekat memasuki hutan tersebut akhirnya tak kembali lagi dan masih banyak mitos atau cerita yang mereka semua mempercayainya.
Mungkin ini adalah pengalaman pertama dari remaja-remaja tersebut, namun Paman Rokhtam selalu berbagi pengalamannya kepada mereka. Disana banyak sekali mereka temukan keindahan yang menakjubkan dalam hutan tersebut, seperti tumbuh-tumbuhan, satwa-satwa yang masih liar yang menimbulkan kekaguman.
Dalam perjalanan selanjutnya mereka melihat tempat perkemahan yang mencurigakan, dengan kecerdikan Paman, diketahui perkemahan tersebut adalah tempat para pencuri-pencuri margasatwa yang ada di hutan tersebut. Karena kepedulian Paman Rokhtam dan rombongannya, akhirnya mereka dapat membebaskan satwa-satwa yang telah ditangkap oleh pencuri-pencuri itu.
Paman Rokhtam dan rombongan dapat menyelesaikan perjalanan tersebut dengan perasaan yang senang karena dapat membebaskan satwa-satwa yang dilindungi tersebut dari para pencuri. Dan remaja-remaja itu sekarang lebih menghargai bagaimana caranya untuk selalu menjaga kelestarian hutan dan termasuk satwa-satwa yang ada didalamnya.

Sinopsis Non Fiksi

Change Your Mind, Change Your Life!
Oleh: EM. Shoelihin
Pikiran merupakan sebuah keunggulan yang dikaruniakan Tuhan kepada setiap manusia. Ia adalah titipan yang harus dipergunakan secara positif, agar ia dapat menjadi kunci untuk membuka kehidupan yang lebih berkualitas. Pikiran yang dikaruniakan Tuhan tersebut bermanfaat dan dapat mencerahkan kehidupan seseorang. Pikiran memiliki kekuatan, layaknya keunggulan yang dimiliki oleh pancaindera lainnya.
Pikiran mampu menggambarkan secara abstrak apa yang dilihat oleh pancaindera. Bahkan pikiran bisa melukiskan apa yang belum diinderai, pikiran yang seperti ini yang biasanya dinamakan sebuah pikiran imajinatif. Pikiran yang imajinatif mampu menstimulan manusia untuk bertindak agung. (Rene Descartes) mengungkapkan “pikiran-pikiran agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung, maupun kebijakan-kebijakan agung”. Maknanya adalah, pikiran imajinatif juga mampu membuat manusia menjadi licik yang bisa ditempuh oleh manusia secara sistematis. Namu dilain sisi pikiran imajinatif juga mampu membuat seorang manusia menjadi eksis dengan cita-cita yang luhur, dan tertanam secara dasariah dalam diri manusia, yakni kesuksesan yang berintikan pada kedamaian, ketenangan, bermanfaat, dan mencerahkan.
Pikiran kita tidak jarang begitu tertutup. Dalam arti sebenarnya, kita tidak mampu membentangkan oikiran kita untuk menangkap peluang dan menjadikan diri kita kreatif. Hal ini disebabkan oleh banyak hal. Namun yang paling dominan, hal ini disebabkan oleh kita tidak mencoba membuka pikiran dan menerima hal-hal baru, yang mungkin bisa memberikan masukan secara positif bagi pikiran kita.

Guru
Guru (dari Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah "berat") adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Arti umum
Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran guru, antara lain:
Arti khusus
Dalam agama Hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual/kejiwaan murid-muridnya.
Dalam agama Buddha, guru adalah orang yang memandu muridnya dalam jalan menuju kebenaran. Murid seorang guru memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva.
Dalam agama Sikh, guru mempunyai makna yang mirip dengan agama Hindu dan Buddha, namun posisinya lebih penting lagi, karena salah satu inti ajaran agama Sikh adalah kepercayaan terhadap ajaran Sepuluh Guru Sikh. Hanya ada sepuluh Guru dalam agama Sikh, dan Guru pertama, Guru Nanak Dev, adalah pendiri agama ini.
Orang IndiaChinaMesir, dan Israel menerima pengajaran dari guru yang merupakan seorang imam atau nabi. Oleh sebab itu seorang guru sangat dihormati dan terkenal di masyarakat serta menganggap guru sebagai pembimbing untuk mendapat keselamatan dan dihormati bahkan lebih dari orang tua mereka.


    Fenomena Masalah Pendidikan di Indonesia


    Yeni Fajar Anggreini
    Pendidikan berkaitan erat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan  manusia. Mulai perkembangan fisik, mental, sosial, sampai pada perkembangan IQ, SQ, dan EQ. Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan penuh kesadaran untuk meningkatkan potensi diri seseorang dalam segala aspeknya untuk menuju terbentuknya sebuah kepribadian. JJ. Rouseau (1998) menyatakan “pendidikan merupakan bekal kepada kita apa yang tidak kita butuhkan pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita butuhkan pada saat dewasa”. Pada umumnya pendidikan  merupakan suatu perkembangan dalam diri seorang manusia. Perkembangan ini mengacu pada manusia untuk menjadi lebih sempurna dan meningkatkan hidupnya  menjadi berbudaya dan bermoral.
    Harer & Brothers (1974:23) menyatakan mengenai arti luas sebuah pendidikan. Dalam pengertian yang luas pendidikan itu menyangkut seluruh pengalaman.
    Akan tetapi faktanya tidak semua pengalaman dikatakan pendidikan. Mencuri, mencopet, korupsi, dan membolos misalnya, bagi orang yang pernah melakukannya tentunya  memiliki sejumlah pengalaman, akan tetapi pengalaman itu tidak dapat dikatakan pendidikan. Karena pendidikan itu memiliki tujuan yang mulia, baik dihadapan manusia maupun dihadapan Tuhan.

    Menurut Langeveld, pendidikan hanya berlangsung dalam suasana pergaulan antara orang yang sudah dewasa (atau yang diciptakan orang dewasa seperti: sekolah, buku, dan lain sebagainya) dengan orang yang belum dewasa dan diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

                Setiap manusia sangat memerlukan pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Pendidikan formal pada umumnya diperoleh seseorang di bangku sekolah, sedangkan pendidikan nonformal diperoleh seseorang dari keluarganya maupun lingkungan tempat tinggalnya. Pendidikan, dalam hal ini pendidikan formal yang didapat di bangku sekolah mempunyai manfaat yang sangat besar, diantaranya adalah untuk menjadikan seseorang itu cerdas dan terampil, meningkatkan kualitas hidup seseorang menjadi lebih bermutu, tangguh dalam menghadapi kehidupan, serta meningkatkan taraf hidup dan derajat hidup orang tersebut. Adapun pendidikan nonformal  juga bermanfaat untuk membentuk seorang manusia menjadi pribadi yang beragama kuat, berbudi pekerti yang luhur, bermoral luhur, serta berakhlak mulia.
    Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka orang tersebut akan semakin tangguh dalam mengarungi arus kemajuan zaman dan menjalani kehidupannya serta semakin seseorang berpendidikan maka semakin baik status sosial orang tersebut. Dan penghormatan masyarakat terhadap orang yang berpendidikan lebih baik dari pada yang kurang berpendidikan. Secara umum manfaat pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup bagi seseorang adalah sebagai pribadi yang mandiri, serta sebagai bekal seseorang dalam menghadapi dan memecahkan sebuah problem kehidupan. Orang yang berpendidikan diharapkan bisa menggunakan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang.
    Ahmad (2008) dalam artikelnya menyatakan empat tujuan utama pendidikan, antara lain sebagai berikut.
    Secara umum pendidikan itu bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi seseorang untuk menghadapi peranannya dimasa mendatang. Secara khusus pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup bertujuan untuk:
    1.      Mengaktualisasikan potensi seseorang sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problem yang dihadapi;
    2.      Merancang pendidikan agar fungsional bagi kehidupan seseorang dalam menghadapi kehidupan dimasa datang;
    3.      Memberikankesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan
    4.      Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumberdaya yang ada dimasyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.

    Adapun fenomena permasalahan pendidikan yang terjadi di Indonesia tak lain disebabkan oleh beberapa faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang terjadi dalam diri masyarakat itu sendiri, yaitu karena kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat atau seseorang dalam hal kependidikan, sehingga pengetahuan yang dimiliki masih sangat minim, serta mahalnya biaya pendidikan. Nurkholis (2007) menyatakan “masalah utama negeri ini, yaitu mahalnya biaya pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini yang kemudian menyebabkan banyak fenomena putus sekolah dikalangan anak-anak Indonesia. ... opsi bantuan BOS yang diberikan pemerintah pun masih belum bisa mengatasi”.
    Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri masyarakat atau seseorang.
    Nurkholis (2007) mengungkapkan pendapatnya ”faktor yang menjadi hambatan secara eksternal antara lain, kurangnya pemerataan pendidikan  di Indonesia, rendahnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan, rendahnya kesejahteraan guru, serta rendahnya prestasi siswa”.
    Sangat ironis sekali, kita tentu sudah banyak mendengar berita-berita tentang  sekolah roboh atau sekolah rusak karena bangunannya sudah lapuk dan usang namun tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hal ini salah satu bukti rendahnya kualitas sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia. Kurangnya pemerataan pendidikan di Indonesia mengakibatkan kesenjangan. Pendidikan di Indonesia lebih difokuskan di wilayah-wilayah pokok yang lebih berpotensi, sedangkan pada daerah-daerah terpencil kurang dijangkau oleh pemerintah. Hal ini terjadi karena keterbatasan dana pendidikan yang disediakan oleh pemerintah.
    Jika kondisi-kondisi yang semacam itu tidak diperbaiki, kecil harapan pendidikan bisa lebih maju dan baik. Maka disimpulkan pendidikan di Indonesia sulit untuk maju. Selama ini kesan kuat bahwa pendidikan yang berkualitas mesti bermodal dan memakan biaya yang sangat besar. Akan tetapi oleh pemerintah hal semacam itu tidak ditanggapi, sejenak kita melihat anggaran pendidikan dalam APBN. Padahal semua tahu bahwa pendidikan akan membaik jika gurunya berkompetensi dan cukup dana untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran. Adanya biaya pendidikan yang mahal, akan menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Bila demikian, ke arah mana pendidikan negeri ini harus dibawa? Bagaimana merencanakan sistem kependidikan yang baik? Kita perlu merenungkannya bersama. Oleh karena itu, sangat diperlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat indonesia yang kurang mampu, melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga pembebasan biaya pendidikan. Pendidikan adalah sebuah investasi jangka panjang bagi tiap-tiap daerah.

    Senin, 02 Januari 2012

    BUSUK !!!!

    Busuk...
      Busuk...
        Busuk...

    Kau bangga dengan kebusukkan itu...

    Sepanjang jalan, sepanjang waktu
    Tersenyum olehnya seperti membawa sebuah piala...

    Berteriak sepuasmu sampai urat malu putus,
    Sampai tak ada lagi telinga-telinga polos yang keluar nanah untuk mendengarkan....

    SELAMAT JALAN IBU SRIAMAH “EMAK’E” TERCINTA

    Pada beberapa minggu kemarin kami telah kehilangan bibi tercinta, entah mengapa sebuah kepergian tersebut sangat cepat kami alami. Saya bertanya sendiri dalam hati “Tuhan mengapa Engkau memisahkan kami dengan beliau untuk selamanya...”
    Tak ada penyakit yang di derita oleh bibi kami tercinta yang berusia 57 tahun dan tinggal di Blitar tersebut. Pada suatu saat tiba-tiba bibi pingsan tak sadarkan diri sehingga keluarga membawa bibi untuk merujuk kerumah sakit Saiful Anwar Malang. Sebagai bentuk ikhtiar kami, bibi disana dirawat dan diobati dengan maksimal. Terlihat wajah suami atau paman serta anak-anaknya yang datang begitu tidak percaya sama sekali akan hal yang terjadi ini.
    Setelah kurang lebih 15 hari bibi dirawat dan diobati tanpa ada perubahan yang lebih baik lagi atau bisa dikatakan mati suri, akhirnya seluruh keluarga sepakat untuk membawa pulang ke Blitar untuk dirawat sendiri dengan alasan beban biaya yang tidak sanggup lagi untuk kita selesaikan. Sesudah beberapa hari dirawat sendiri, saya sebagai keponakan beliau tiba-tiba ingin sekali untuk menjenguk bibi bagaimanakah keadaannya. Namun apa yang terjadi setelah saya melihatnya terbaring dikamar, esok pagi tepatnya pukul 07.00 beliau telah dipanggil Allah SWT.
    Sungguh ini kenyataan yang sulit diterima oleh keluarga, tangisan pun pecah setelah bibi menghembuskan napas terakhirnya. Saya juga tak bisa menahan air mata yang keluar ini dalam duka yang mendalam.
    Memang beliau adalah pribadi yang teladan bagi kami, dan tak sedikitpun saya melihat beliau marah-marah. Sabar dan sikapnya yang bersahaja membuat kami sangat merasakan kehilangan. Dengan segera kami sekeluarga untuk memandikan jenasah beliau, saya juga disuruh ibu untuk ikut memandikan jenasah beliau sebagai penghormatan terakhir. Saat memandikannya saya memangku bagian kaki beliau dengan posisi duduk, cara memandikan disana memang harus dengan dipangku oleh tiga orang. Selanjutnya jenasah dikafani, disholati dan yang terakhir diberangkatkan menuju  pemakaman untuk dikubur. Seluruh proses berjalan dengan baik yang masih diselimuti duka.
    Kami tak henti-hentinya berdoa agar amal dan ibadahnya diterima disisi Allah SWT. Dan kami hanya bisa pasrah menerima semua yang telah terjadi, mungkin Allah mempunyai maksud lain dengan takdir yang telah diberikan kepada kita sekeluarga.
    Hidup hanyalah sementara, dengan waktu yang terbatas ini kita harus berbuat yang terbaik dalam hidup kita agar kelak kita mendapatkan tempat yang terbaik di sisiNya.Amin...  

    analisis unsur intrinsik "LAMPOR"

                                                                                 BAB I
    PENDAHULUAN

    A.    LATAR BELAKANG

               Cerita pendek atau yang biasa disebut cerpen adalah suatu karya sastra yang cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya satra lainnya. Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel, dan biasanya memusatkan perhatian pada suatu kejadian. Cerita pendek memiliki satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, dan mencakup jangka waktu yang singkat.

    Makalah ini akan menganalisis suatu unsur instrinsik dalam sebuah cerita pendek agar kita mengetahui unsur instrinsik dalam sebuah judul dan juga termasuk aliran sastra apa yang ada dalam karya sebuah cerita pendek tersebut.


    B.     RUMUSAN MASALAH

    Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut:

    1.      Apa saja unsur instrinsik dalam cerpen berjudul “LAMPOR” karya Joni Ariadinata?
    2.      Aliran sastra apa yang terkandung dalam cerpen tersebut?

    C.     TUJUAN

    Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan dari makalah ini adalah:

    1.      Mengetahui unsur instrinsik dalam cerpen berjudul “LAMPOR” karya Joni Ariadinata.
    2.      Dapat menentukan sebuah aliran apa yang ada dalam sebuah karya sastra.



    BAB II
    PEMBAHASAN

    A.    CERPEN DAN UNSUR-UNSUR INSTRINSIK PEMBANGUNNYA


    TEMA
    Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Tema merupakan jiwa dari seluruh bagian cerita. Ada tema yang dinyatakan secara eksplisit (disebutkan) dan ada pula yang dinyatakan secara implisit (tanpa disebutkan tetapi dipahami).
    Dalam cerpen “LAMPOR” dapat diketahui tema dari cerita tersebut adalah tema Sosial atau sebuah realitas dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita ketahui dari teks sebagai berikut:
    “Rumah tukang akik. Empat kali dua meter, beratap setengah genting dengan aksesori pelengkap tujuh buah plastik bekas taplak penambal bocor ditambah potongan-potongan eternit, dinding murni gedek. Di dalamnya lima manusia bersenyawa dengan barang-barang rongsokan dan harta keseharian. Jika malam, tiga anak tidur beralaskan tikar: Tito, Rohanah, dan Rois. Sedang  diatas dipan kayu lapuk bergencetan Abah Marsum dan Sumiah.”
    Dalam teks tersebut dapat mewakili tema apa yang ada didalam cerita bahwa penulis ingin menunjukkan sebuah kenyataan yang sebenar-benarnya dialami oleh keluarga dalam cerita tersebut.  


    TOKOH DAN PERWATAKAN

    Tokoh adalah individu ciptaan atau rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakuan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, namun dapat pula berwujud binatang atau benda yang di insankan.
    Sedangkan perwatakan adalah suatu penyajian sifat atau watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Banyak sekali cara penyajian watak tokoh diantaranya dari tindakan, ucapan, penggambaran fisik, pikiran, dan penerangan secara lansung.
    Tokoh dan Perwatakan dalam cerpen “LAMPOR” adalah sebagai berikut:
    1.      Abah Marsum sebagai Bapak.
               Watak dari Abah Marsum adalah santai, tidak terlalu memikirkan beban yang dialami keluarganya yang setiap hari kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    2.      Sumiah sebagai Emak.
               Watak dari Sumiah adalah selalu emosi dikarenakan suaminya yang tak peduli dengan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga sumiah menjadi pemarah.

    3.      Tito sebagai Anak pertama.
               Watak dari Tito adalah anak yang mau bekerja menjadi pemulung demi membantu memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Dia adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya.

    4.      Rohanah sebagai Anak kedua.
               Watak dari Rohanah adalah anak yang kurang ajar kepada orangtuanya, tingkahnya yang menyebalkan, dan suka menipu itu adalah sifat yang buruk dari Rohanah.

    5.      Rois sebagai Anak ketiga.
               Watak dari Rois adalah anak yang suka mencuri uang orang tuanya, dan masih kecil dia sudah berani menjadi pencuri, pencopet, dan melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh anak kecil.

    ALUR (Plot)

    Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa cerita. Alur dapat disusun berdasarkan tiga hal yaitu:
    ·         Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi).
    ·         Berdasarkan sebab akibat (kausal).
    ·         Berdasarkan tema cerita.
    Adapun struktur alur adalah sebagai berikut:
    ·         Bagian awal, terdiri atas: paparan, rangsangan, dan gawatan.
    ·         Bagian tengah, terdiri atas: tikaian, rumitan, dan klimaks.
    ·         Bagian akhir, terdiri atas: leraian, dan selesaian.

    Hal yang harus dihindari dalam alur adalah lanturan (digresi). Lanturan adalah peristiwa atau bagian yang tidak berhubungan dengan inti cerita atau menyimpang dari pokok persoalan yang sedang dihadapi dalam cerita.

    Alur dalam cerpen yang berjudul “LAMPOR” karya Joni Ariadinata ini bisa dikatakan alur maju (progesi), yang dimaksud alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian.
    Hal tersebut dapat dilihat dalam bagian cerita seperti dibawah ini:

    Tito mencangking karung dan pengait ”dinas luar”, ketika Rohanah bangun untuk antre mengambil air bersih. Setengah jam kemudian Abah Marsum menggeliat saat mendengar suara kaleng berderak serta bantingan pintu, kasar dan keras. Batuk-batuk sebentar, kemudian meludahkan dahak kental. Sepagi ini Sumiah mengumpat, berjalan gusar dengan dada naik-turun, “Bajingan tengik! Anak keparat. Pagi-pagi sudah mencuri...
    LATAR

    Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar meliputi penggambaran letak geografis (termasuk topografi, pemandangan, perlengkapan, ruang), pekerjaan atau kesibukan tokoh, waktu berlakunya kejadian, musim, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional tokoh.
    Ada beberapa fungsi latar, antara lain
    ·         memberikan informasi situasi sebagaimana adanya.
    ·         memproyeksikan keadaan batin tokoh.
    ·         menciptakan suasana tertentu.
    ·         menciptakan kontras.

    Latar dalam cerpen LAMPOR adalah sebagai berikut:
    1.      Perkampungan dekat Sungai Comberan yang kumuh.
    2.       Rumah ukuran empat kali dua meter, beratap setengah genting dengan aksesori pelengkap tujuh buah plastik bekas taplak penambal bocor ditambah potongan-potongan eternit, dinding murni gedek.
    3.      Sungai Comber tempat mandi, mencuci, dan buang air.

    MAJAS ATAU GAYA BAHASA

    Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
                           
    Dalam cerpen “LAMPOR” dapat diketahui gaya bahasa atau majas yang dipakai oleh penulis adalah majas sarkasme,           Sarkasme adalah suatu majas yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu. Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Dapat diketahui dari cuplikan paragraf berikut ini:
    “Keparat! Kali ini kowe yang harus dinas mengerti? Hey, kowe yang harus ngemis!” Sumiah berteriak-teriak. Lantas berjingkat pulang.”Betul-betul keparat. Tak tahu diuntung.” 











    SUDUT PANDANG
    Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya terhadap cerita atau dari sudut mana pengarang memandang ceritanya. Berikut ini beberapa sudut pandang yang dapat digunakan pengarang dalam bercerita. 


    a.         Sudut pandang orang pertama, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti aku atau saya. Dalam hal ini pengarang seakan-akan terlibat dalam cerita dan bertindak sebagai tokoh cerita. 


    b.         Sudut pandang orang ketiga, sudut pandang ini biasanya menggunakan kata ganti orang ketiga seperti dia, ia atau nama orang yang dijadikan sebagai titik berat cerita. 


    c.     Sudut pandang pengamat serba tahu, Dalam hal ini pengarang bertindak seolah-olah mengetahui segala peristiwa yang dialami tokoh dan tingkah laku tokoh. 


    d.    Sudut pandang campuran, (sudut pandang orang pertama dan pengamat serba tahu). Pengarang mula-mula menggunakan sudut pandang orang pertama. Selanjutnya serba tahu dan bagian akhir kembali ke orang pertama.
       Sudut pandang dalam cerpen “LAMPOR” adalah sudut pandang orang ketiga, dapat diketahui dalam kalimat sebagai berikut:

    Tito mencangking karung dan pengait ”dinas luar”, ketika Rohanah bangun untuk antre mengambil air bersih. Setengah jam kemudian Abah Marsum menggeliat saat mendengar suara kaleng berderak serta bantingan pintu, kasar dan keras. Batuk-batuk sebentar, kemudian meludahkan dahak kental. Sepagi ini Sumiah mengumpat, berjalan gusar dengan dada naik-turun, “Bajingan tengik! Anak keparat. Pagi-pagi sudah mencuri...”

    Disini Penulis menggunakan kata ganti orang ketiga seperti nama yang disebutkan pada kutipan diatas yang dijadikan titik berat cerita.

    AMANAT
    Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir, dapat pula secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.

    Dalam cerita ini Penulis ingin menceritakan sebuah kenyataan dari sebuah keluarga yang selalu kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga menceritakan sebuah kehidupan yang sangat memperihatinkan. Hal ini dapat membuat kita akan berfikir lebih dalam lagi bahwa masih ada saudara kita yang masih dalam keadaan kekurangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

    “ketika anak-anak dekil mandi, perempuan mencuci piring dan daki, pantat-pantat separuh telanjang mengeluarkan kotoran. Secara serempak dan tetap: pagi pukul delapan, sore pukul lima. Kotoran dengan bakteri kental lewat campuran air mengalir, adalah hal teramat sederhana buat jadi pikiran. Teramat sepele buat jadi pertimbangan.”

    Perhatikan cuplikan kalimat diatas, penulis ingin mengungkapkan sebuah keadaan yang sangat memperihatinkan. Semua hal yang dilakukan bersamaan dalam kalimat tersebut membuat kita tahu dan sadar akan kehidupan mereka yang tidak layak. Mungkin inilah amanat yang ingin disampaikan Penulis dalam sebuah karyanya.



    B.     ALIRAN SASTRA DALAM CERITA PENDEK.

    Secara sederhana aliran sastra itu dapat diartikan sebagai hasil ekspresi para sastrawan yang meyakini bahwa jenis sastra yang mereka ciptakan itulah hasil sastra yang paling cocok untuk zamannya.

    Di dalam setiap aliran sastra selalu ditemui ciri khas masing-masing. Ciri khas itu ditandai dengan bentuk dan isi. Bentuk berhubungan dengan cara menyampaikannya, yaitu gaya yang khas dan unik. Adapun isi adalah kedalaman pikiran atau gagasan yang disampaikan pengarang. Kedua hal ini saling terkait dan menciptakan trend dalam suatu aliran sastra.

    Pada cerpen “LAMPOR” aliran sastra apa yang terkandung di dalamnya? Coba kita simak paragraf pada kalimat berikut:

    Plastik-plastik terapung, lumpur pekat kecoklatan, perkakas penyok, bangkai anjing dengan perut gembung, lalat hijau, sampah busuk. Amat biasa bahkan bagus untuk dinikmati. Manakala air Kali Comberan meluap membentuk harmoni alam yang kelewat simetris dengan ilustrasi deretan gubuk primitif mirip kandang babi.

    Dan juga berikut ini:

    ketika anak-anak dekil mandi, perempuan mencuci piring dan daki, pantat-pantat separuh telanjang mengeluarkan kotoran. Secara serempak dan tetap: pagi pukul delapan, sore pukul lima. Kotoran dengan bakteri kental lewat campuran air mengalir, adalah hal teramat sederhana buat jadi pikiran. Teramat sepele buat jadi pertimbangan.



    Dari kedua paragraf tersebut diatas, saya berpendapat bahwa cerpen ini masuk pada aliran sastra Realisme. Realisme adalah aliran dalam kesusastraan yang melukiskan suatu keadaan atau kenyataan yang sesungguhnya. Para tokoh aliran ini berpendapat bahwa tujuan seni adalah untuk menggambarkan kehidupan dengan kejujuran yang sempurna dan objektif. Pengarang melukiskan dengan teliti, tanpa prasangka, tanpa tercampur tafsiran, dan tidak memaksakan kehendaknya sendiri terhadap pelaku dan pembacanya. Pengarang sendiri berada di luar, tanpa ikut campur dalam cerita. Dan dalam karya realisme banyak yang berkisar pada golongan masyarakat bawah, seperti kaum tani, buruh, gelandangan, pelacur, dan sebagainya.
      

    BAB III

    PENUTUP


    KESIMPULAN

    Dalam menentukan sebuah unsur intrinsik sebuah karya sastra dan aliran sastra diperlukan adanya sebuah pemahaman dan ketelitian yang lebih mendalam.

    Unsur-unsur instrinsik dalam sebuah karya sastra ini meliputi: tema, tokoh dan perwatakan, alur, latar (setting), sudut pandang, amanat. Semuanya harus kita cari satu persatu dalam cerpen yang akan kita analisis.

    Pada tugas ini kita harus bisa menentukan dalam menganalisis unsur intrinsik dan aliran dari sebuah karya sastra. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak hanya menjadi penikmat sastra saja, namun juga belajar memulai menjadi peneliti sastra.

    Makalah ini dibuat sebagai tugas dari mata kuliah pengantar sastra dengan harapan dapat menjadi sumbangan pemikiran dan juga dapat tersampaikan tujuan terutama bagi penulis.


    DAFTAR PUSTAKA


    agsuyoto.files.wordpress.com/2008/03/unsur-prosa-cerita.doc
    Rampan, Korrie Layun. 1999. Aliran-Jenis Cerita Pendek. Jakarta: Balai Pustaka.
     Hartoko, D. 1982. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Gramedia.